wedang ronde mbah payem
Wedang Ronde

Wedang Ronde Mbah Payem Malioboro: Hangat Klasik Buat Tidur Nyenyak

Day 3 – Jogja – Malam habis belanja. Saya jalan pelan di area Malioboro sambil nahan angin malam yang mulai “masuk” ke badan. Di kepala cuma ada satu kebutuhan sederhana: butuh hangat untuk tidur nyenyak, bukan yang bikin begah. Dari situ, saya mampir ke Wedang Ronde Mbah Payem—tempat makan ronde yang kelihatan sederhana, tapi aromanya sudah keburu meyakinkan sejak saya mendekat.

Kenapa Saya Datang ke Wedang Ronde Mbah payem

Kalau kamu habis keliling Jogja seharian, ada momen ketika tubuh minta ditenangkan, bukan “diisi penuh”. Itu alasan saya memilih wedang ronde malam itu. Saya memang cari yang dominan jahe hangat, dan saya suka ronde yang punya isian kacang—ada tekstur, ada rasa, tapi tetap ringan.

Area Malioboro juga punya ritmenya sendiri: ramai, banyak pilihan, dan kadang bikin kita bingung mau berhenti di mana. Wedang Ronde Mbah Payem terasa seperti jeda kecil. Tempatnya tidak “heboh”, tapi pas untuk menutup malam dengan sesuatu yang hangat dan klasik.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur

Bagian Favoritnya: Seruput Jahe, Kunyah Isian Kacang

wedang ronde mbah payem
Wedang Ronde

Saya pesan, lalu menunggu sekitar 5–10 menit sampai semangkuk wedang ronde siap disajikan. Alurnya simpel: datang–pesan–tunggu sebentar–disajikan. Di jam ramai, prosesnya tetap terasa tertata, cuma ya kamu perlu siap berbagi ruang dengan pengunjung lain.

Begitu mangkuknya datang, yang pertama saya rasakan adalah aroma jahe yang langsung naik. Rasa jahenya hangat, bikin dada terasa lebih lega, dan enak diminum pelan-pelan. Rondennya kenyal dengan ukuran yang pas, lalu isian kacangnya memberi rasa “nutty” yang lembut—tidak bikin enek, justru bikin wedangnya terasa lebih berisi.

Karena ini paling pas dinikmati malam, saya saranin kamu minumnya jangan buru-buru. Seruput dulu kuah jahenya, baru lanjut gigitan ronde, lalu kembali lagi ke kuah. Polanya sederhana, tapi bikin badan cepat terasa hangat. Saya sendiri habis itu duduk santai sekitar 20–30 menit, cukup untuk menutup malam tanpa perlu tambah menu berat.

Lihat Lokasi : Google Maps

Ini yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Datang ke Wedang Ronde Mbah payem

Biar kamu nggak datang dengan ekspektasi “ngawang”, ini catatan praktis dari yang saya lihat langsung:

  • Waktu paling enak: malam
  • Jam ramai: 19.00–22.00 (kalau kamu mau lebih tenang, datang sebelum jam itu)
  • Parkir: tepi jalan (kalau bawa mobil, siap-siap cari titik yang aman dan jangan mepet jam padat)
  • Sudah berdiri sejak: tidak tercantum / belum saya dapat info pastinya

Ngobrol Singkat dengan Karyawan Wedang Ronde Mbah payem

Saya sempat tanya cepat biar kamu juga punya gambaran saat mau pesan:

  • Level jahe: bisa disesuaikan selera (kalau kamu sensitif pedas jahe, bilang dari awal)
  • Isi favorit: isian kacang jadi yang paling sering dicari karena terasa “klasik”
  • Tambahan roti: bisa jadi opsi kalau kamu pengin sedikit lebih kenyang tanpa makan berat
  • Pembayaran: tanya dulu di awal biar nggak bolak-balik saat ramai (biasanya kasir/yang melayani akan arahin)

Komparasi Ringkas: Dibanding Ronde Gladag, Bedanya di Rasa dan Momen

Kalau kamu sudah pernah coba Ronde Gladag, wedang ronde di Malioboro ini bisa kamu anggap sebagai alternatif yang sama-sama tradisional, tapi suasananya beda. Di Malioboro, vibe-nya lebih “jalan malam”—ramai, banyak lalu-lalang, cocok buat kamu yang habis keliling dan pengin berhenti sebentar. Soal rasa, saya fokusnya ke jahe yang hangat dan ronde isi kacang yang pas untuk penutup malam. Bukan soal mana yang lebih bagus, tapi mana yang paling nyambung sama rute dan kebutuhan kamu malam itu.

Baca Juga : Sate Klathak Pak Pong Imogiri: Malam Roadtrip Selatan yang Berakhir di Tusuk Besi Tahun 2025

Tips Kunjungan ke Wedang Ronde Mbah payem

Biar pengalamanmu lebih nyaman, ini beberapa tips yang kepakai banget:

  1. Datang sebelum 19.00 kalau kamu pengin duduk lebih lega dan nggak terlalu keburu antrian.
  2. Kalau datang 19.00–22.00, siapin mental “malioboro mode”: ramai, tapi masih worth it kalau kamu memang cari yang hangat.
  3. Sebut preferensi jahenya di awal—mau yang ringan atau yang lebih nendang. Ini ngaruh ke pengalaman seruput pertamanya.
  4. Kalau bawa keluarga/anak, wedang ronde ini cenderung aman sebagai penutup malam karena terasa ringan. Tapi tetap perhatikan sensitifitas anak ke jahe hangat.
  5. Parkir tepi jalan: kalau kamu bawa mobil, lebih aman datang lebih awal atau pertimbangkan titik parkir yang jelas supaya nggak muter lama.

Jadi Wajib Gak Nih?

Layak — (hangat, ringan, klasik).
Kalau kamu lagi di Malioboro malam-malam dan butuh penutup yang bikin badan tenang sebelum tidur, Wedang Ronde Mbah Payem ini masuk daftar yang enak buat disamperin. Jahe hangatnya terasa, isian kacangnya bikin ronde tetap “berisi”, dan durasinya pas untuk jeda singkat sebelum kamu pulang dan tidur lebih nyenyak.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *