Day 3 – Jogja – Siang dari The Phoenix Hotel. Siang itu saya keluar hotel dengan langkah santai, perut tidak terlalu kosong tapi badan butuh yang hangat ringan. Jogja sedang terik, tapi entah kenapa justru kepikiran soto bening. Pilihan saya jatuh ke Soto Kadipiro (Wates)—tempat yang sering disebut orang sebagai soto tua, sederhana, dan konsisten sejak lama.
Isi Artikel
- Kenapa Saya Datang ke Soto Kadipiro – Soto Bening Jogja
- Pengalaman Makan Kuliner Soto Jogja : Bening, Hangat, dan Cepat Disajikan
- Informasi Praktis yang Perlu Kamu Tahu – Soto Legendaris Jogja
- Ngobrol Singkat dengan Karyawan
- Komparasi Ringkas dengan Soto Bathok Mbah Katro
- Tips Kunjungan Biar Makin Pas
- Jadi Wajib Nggak Nih?

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur
Kenapa Saya Datang ke Soto Kadipiro – Soto Bening Jogja
Alasan utamanya sederhana: kuah bening yang ringan. Setelah dua hari makan menu berat, saya ingin sesuatu yang menghangatkan tanpa bikin eneg. Soto Kadipiro dikenal dengan karakter itu—tidak berminyak berlebihan, aromanya halus, dan rasanya bersih. Buat kamu yang sedang di Jogja dan ingin makan siang aman di perut, ini tipe tempat yang sering jadi rujukan.
Lihat Lokasi : Google Maps
Pengalaman Makan Kuliner Soto Jogja : Bening, Hangat, dan Cepat Disajikan

Soto datang dengan kuah bening yang jujur—tidak keruh, tidak berminyak tebal. Aroma bawang dan kaldu terasa ringan sejak mangkuk pertama diletakkan. Dagingnya empuk, mudah dikunyah, dan tidak bau prengus. Saya merasakan rasa gurih yang pelan tapi konsisten, tanpa ledakan bumbu berlebihan.
Ini tipe soto yang enak dimakan pagi sampai siang, apalagi kalau kamu sedang butuh makan cepat. Dari pesan sampai soto tersaji hanya sekitar 5–10 menit. Alurnya rapi: pesan, duduk, sebentar menunggu, lalu mangkuk hangat datang. Saya habiskan makan dan duduk santai sekitar 30–40 menit, cukup tanpa perlu terburu-buru.
Baca Juga : Kopi Klotok Merapi: Warung Ndeso Buat Sarapan Rumahan dengan View Sawah
Informasi Praktis yang Perlu Kamu Tahu – Soto Legendaris Jogja
- Jam ramai: 12.00–14.00, terutama jam makan siang
- Parkir: motor dan mobil di tepi jalan
- Sudah berdiri sejak: ±1921 — salah satu soto tertua yang masih aktif
- Karakter utama: kuah bening ringan, tidak tajam di bumbu
Ngobrol Singkat dengan Karyawan
Saya sempat tanya beberapa hal ringan, ini rangkumannya:
- Daging favorit: banyak pelanggan pilih ayam karena lebih ringan
- Kuah paling gurih: biasanya menjelang tengah hari, kaldu sudah matang sempurna
- Lauk best-seller: tempe dan perkedel jadi pasangan paling sering dipesan
- Porsi anak: aman, tinggal minta porsi kecil atau tanpa sambal
Komparasi Ringkas dengan Soto Bathok Mbah Katro
Kalau dibandingkan dengan Soto Bathok Mbah Katro, perbedaannya terasa jelas. Soto Kadipiro lebih fokus ke rasa bersih dan ringan, sedangkan Soto Bathok cenderung punya pengalaman visual dan suasana yang lebih kuat. Keduanya sama-sama enak, tapi pilihannya tergantung kondisi kamu: mau yang cepat dan simpel, atau yang lebih berkonsep.
Tips Kunjungan Biar Makin Pas
- Datang sebelum jam 12.00 kalau ingin lebih lengang
- Pesan soto dulu, baru lauk, supaya makan tetap hangat
- Cocok buat keluarga dan anak karena rasanya tidak pedas tajam
- Kalau sensitif minyak, ini salah satu soto yang relatif aman
Jadi Wajib Nggak Nih?
Wajib — (bening, ringan, cepat).
Soto Kadipiro bukan tempat yang heboh atau penuh gimmick. Tapi justru di situ kekuatannya. Kalau kamu butuh soto yang konsisten, cepat, dan nyaman di perut, tempat ini layak masuk daftar makan siangmu di Jogja.


