Sate Klathak Pak Pong Imogiri
Sate Klathak Pak Pong Imogiri

Sate Klathak Pak Pong Imogiri: Malam Roadtrip Selatan yang Berakhir di Tusuk Besi Tahun 2025

Malam itu (Day 3 – Jogja – malam roadtrip selatan), saya memang lagi cari makan enak yang “berat” dan fokus daging. Kebetulan kami ramean, jadi modelnya share buat keluarga biar semua bisa coba. Begitu sampai di Sate Klathak Pak Pong (Imogiri), vibe-nya langsung kerasa: ramai, ritme kerja cepat, tapi tetap santai khas warung malam Jogja. Saya sudah siap dengan satu hal dari awal: ini tempat yang nikmatnya perlu “dibayar” dengan sabar antre dan nunggu.

Sebagai pecinta kuliner daging, sate klathak Pak Pong Imogiri memang sering disebut-sebut saat ngobrol soal sate khas Jogja. Lokasinya yang ada di jalur Imogiri membuat Sate Klathak Pak Pong Imogiri jadi persinggahan favorit banyak orang yang sedang roadtrip malam ke arah selatan. Saya sendiri datang dengan ekspektasi sederhana: daging enak, matang pas, dan rasa yang jujur—dan sejauh pengalaman malam itu, ekspektasi tersebut terpenuhi.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur


Kenapa saya sengaja mampir ke sini?

Sate Klathak Imogiri
Sate Klathak Imogiri

Kalau kamu lagi jelajah Jogja bagian selatan, Imogiri itu salah satu jalur yang enak banget buat roadtrip malam. Saya memilih mampir ke Sate Klathak Pak Pong karena pengin sate yang karakter rasanya nggak ketutup bumbu berat. Di sini ciri khasnya jelas: tusuk besi dan bumbu sederhana.

Buat saya, dua hal itu menarik karena biasanya justru di “sederhana”-nya kita bisa benar-benar ngerasain kualitas dagingnya. Tusuk besi juga bukan sekadar gimmick—secara rasa, dia bikin sensasi panggangnya beda: panasnya lebih “nempel”, dan aroma bakarnya lebih tegas.

Lihat Lokasi : Google Maps


Momen paling dinanti: gigitan pertama dan aroma smoky yang keluar pelan-pelan

Saya makan sate klathak ini memang paling pas saat malam, apalagi setelah perjalanan yang bikin perut kosongnya terasa “serius”. Begitu pesanan datang, aromanya langsung keluar duluan: wangi bakaran yang cenderung smoky, bukan yang manis atau tajam karena bumbu.

Soal tekstur, yang saya rasakan: dagingnya cenderung empuk, dan bagian luarnya punya sentuhan panggang yang bikin tiap gigitannya terasa “matang” tanpa perlu bumbu rame. Bumbunya sendiri terasa sederhana—lebih ke rasa gurih dan karakter daging, bukan bumbu yang menutupi.

Yang membuat sate klathak Pak Pong Imogiri terasa konsisten adalah cara penyajiannya yang tidak neko-neko. Daging kambing ditusuk besi, dibakar langsung, lalu disajikan dengan kuah gulai terpisah. Saat disantap malam hari, karakter sate klathak di sini terasa jelas: empuk di dalam, smoky di luar, dan tidak bergantung pada bumbu berlapis. Buat saya, ini tipe sate yang bikin kamu fokus makan, bukan sibuk nebak rasa.

Alur pesan–tunggu–saji (biar kamu kebayang ritmenya)

  • Datang malam hari, suasananya sudah ramai dan warung berjalan dengan tempo cepat.
  • Pesan, lalu siap-siap menunggu 20–40 menit (ini realistis, apalagi kalau kamu datang di jam ramai).
  • Begitu makanan datang, enaknya langsung dimakan saat masih panas—aroma smoky-nya paling kerasa.

Saya pribadi merasa durasi saya di lokasi sekitar 45–60 menit itu pas: cukup buat nunggu, makan tenang, dan ngobrol sebentar tanpa keburu-buru.


Info praktis yang pengin kamu tahu sebelum berangkat

Kalau kamu tipe yang suka “anti drama”, bagian ini penting.

Jam ramai dan strategi waktu

  • Jam ramai: 19.00–21.00
    Kalau kamu bisa, datang sedikit lebih awal sebelum jam itu, atau justru agak lewat (tergantung energi roadtrip kamu). Jam ramai berarti antre dan nunggu akan terasa lebih panjang.

Parkir

  • Area parkir ada
    Ini nilai plus kalau kamu bawa mobil bareng keluarga. Tetap aja, saat jam ramai, suasana keluar-masuk kendaraan bisa lebih padat—jadi sabar sedikit ya.

Sudah berdiri sejak?


  • Saya nggak menemukan info pasti tentang tahun berdirinya saat kunjungan, jadi saya pilih aman: yang jelas, tempat ini sudah punya ritme pengunjung yang stabil dan ramai.

Karena Sate Klathak Pak Pong Imogiri cukup populer, terutama di jam 19.00–21.00, wajar kalau waktu tunggu bisa mencapai 20–40 menit. Tapi selama kunjungan saya, alurnya tetap tertata: pesan dicatat rapi, panggangan jalan terus, dan pesanan keluar sesuai antrean. Kalau kamu datang dengan ekspektasi realistis, makan di sate klathak Pak Pong Imogiri justru terasa lebih santai.

Baca Selengkapnya: Pawon Luwak Coffee Borobudur: Ngopi “Kopi Desa” yang Tradisional Buat Sore Santai

Ngobrol singkat dengan karyawan (yang jawabannya kepake banget)

Saya sempat tanya beberapa hal yang biasanya bikin orang ragu saat pesan sate klathak. Ini rangkumannya:

  • Kematangan bisa diatur: kamu bisa minta sesuai selera, jadi nggak harus “standar” aja.
  • Bagian favorit: mereka punya preferensi potongan tertentu yang paling sering dicari (dan biasanya cepat habis).
  • Kuah gulai terpisah: ini membantu kamu yang pengin rasa sate tetap “clean”, kuahnya jadi opsi, bukan kewajiban.
  • Tips antre: datang sebelum jam ramai atau siapin mindset nunggu—lebih enak kalau kamu memang niat makan, bukan kejar waktu.

Dibandingin halus dengan Sate Klathak Pak Bari, bedanya kerasa di mana?

Kalau kamu pernah coba Sate Klathak Pak Bari, kemungkinan kamu sudah paham “genre”-nya: sate klathak itu nggak main bumbu rame, fokus ke panggangan dan rasa daging.

Yang saya rasakan di Pak Pong: karakter smoky dari panggangan dan gaya penyajiannya terasa konsisten dengan konsep sederhana. Sementara kompetitor punya daya tarik sendiri—kadang orang cocoknya beda-beda tergantung selera daging, vibe tempat, atau faktor “dekat dari mana”. Saya melihatnya simpel: kalau kamu lagi di jalur Imogiri dan pengin sate klathak yang straightforward, Pak Pong ini masuk list yang aman.


Tips kunjungan biar kamu nggak zonk

  1. Datang sebelum 19.00 kalau bisa. Kamu lebih enak pilih tempat duduk dan nunggu nggak terlalu menguras tenaga.
  2. Kalau bareng keluarga, pesan untuk sharing. Praktis, dan semua bisa coba tanpa harus “kekenyangan satu rasa”.
  3. Siapin waktu tunggu 20–40 menit. Anggap ini bagian dari pengalaman warung malam yang ramai.
  4. Kalau bawa anak/keluarga senior: pastikan mereka nyaman duduk dulu, karena jam ramai bikin suasana lebih padat dan ritmenya cepat.
  5. Kalau kamu sensitif sama asap panggangan: pilih posisi duduk yang lebih “aman” dari arah bakaran.
  6. Kalau tujuanmu memang makan sate klathak Pak Pong Imogiri, sebaiknya jadikan ini destinasi utama, bukan sekadar mampir sambil lalu.

Jadi wajib gak nih?

Wajib — (empuk, smoky, sederhana).
Kalau kamu lagi roadtrip malam di Jogja bagian selatan dan pengin makan daging yang rasa bakarnya jelas tanpa bumbu berlebihan, Sate Klathak Pak Pong Imogiri ini worth it kamu perjuangkan. Kuncinya cuma satu: datang dengan niat makan, bukan niat “cepet-cepet”.

Dengan karakter empuk, smoky, dan sederhana, sate klathak Pak Pong Imogiri layak masuk daftar wajib kalau kamu sedang menjelajah kuliner malam Jogja bagian selatan.


1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *