Halo Sobat Makan! Bagi saya, wisata Jogja santai punya daya tarik semacam itu. Ada sesuatu yang istimewa dari aroma arang yang membakar sate, suara denting lonceng delman, hingga sapaan ramah w arga lokal yang selalu membuat saya merasa pulang ke rumah. Setiap kali kaki ini menginjakkan kaki di Stasiun Tugu atau Lempuyangan, saya selalu merasa ada cerita baru yang siap untuk ditulis, meski tempat yang saya kunjungi adalah tempat yang sama berulang kali.
Isi Artikel
- Berjalan Kaki Menyusuri Keramaian Malioboro – Wisata Jogja Santai
- Meresapi Ketenangan di Jantung Budaya, Keraton Yogyakarta – Wisata Jogja Santai
- Menelusuri Lorong Waktu di Taman Sari – Wisata Jogja Santai
- Megahnya Candi Prambanan Saat Senja – Wisata Jogja Santai
- Singgah Sejenak di Benteng Vredeburg – Wisata Jogja Santai
- Sebuah Tempat untuk Kembali
Jogja bukan sekadar destinasi wisata dalam daftar perjalanan saya. Kota ini adalah ruang untuk melambat, menikmati waktu yang rasanya berjalan lebih tenang di sini. Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman santai saat menyusuri sudut-sudut klasik Jogja yang mungkin sudah sering Sobat Makan dengar, namun selalu punya sisi menarik jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Mari kita mulai perjalanan ini dengan hati yang santai dan perut yang siap untuk dimanjakan.
Baca Juga: Pecinta Durian, Ini Temuan Baru di Magelang: Es Dawet Durian Bar Bar (Cabang Pakelan)
Berjalan Kaki Menyusuri Keramaian Malioboro – Wisata Jogja Santai
Rasanya tidak lengkap kalau ke Jogja tanpa menyapa Jalan Malioboro. Bagi saya, Malioboro adalah denyut nadi kota ini. Sekarang, suasananya sudah jauh lebih tertata dan ramah bagi pejalan kaki. Saya senang sekali menghabiskan waktu sore hari di sini, sekadar duduk di bangku-bangku kayu yang tersedia sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Ada seniman jalanan yang menyanyi dengan syahdu, hingga para pedagang yang menjajakan dagangannya dengan logat Jawa yang kental.

Bicara soal kuliner di sini, saya punya satu ritual kecil. Saya suka menyempatkan diri mengantre Lumpia Samijaya yang legendaris itu. Dimakan hangat-hangat dengan cabai rawit sambil berjalan kaki adalah cara terbaik menikmatinya. Selain itu, jika Sobat Makan punya waktu lebih, cobalah masuk ke gang-gang kecil di sekitar Malioboro. Kadang, di sana kita bisa menemukan warung kopi tersembunyi atau penjual bakpia rumahan yang aromanya masih sangat otentik karena baru keluar dari panggangan.
Lihat Lokasi Disini
Meresapi Ketenangan di Jantung Budaya, Keraton Yogyakarta – Wisata Jogja Santai
Setelah puas dengan keriuhan Malioboro, saya biasanya berjalan kaki sedikit lebih jauh menuju arah selatan untuk sampai ke Keraton Yogyakarta. Masuk ke area keraton selalu memberikan sensasi damai. Saya sangat menyarankan Sobat Makan untuk datang di pagi hari saat udara masih terasa segar. Arsitektur bangunan yang penuh dengan simbolisme budaya Jawa ini selalu membuat saya kagum, bukan karena kemegahannya yang mencolok, melainkan karena kesahajaannya.

Salah satu hal yang paling saya sukai adalah berinteraksi dengan para Abdi Dalem. Melihat mereka dengan pakaian tradisional dan senyum yang tulus saat menjalankan tugas, memberikan saya perspektif baru tentang pengabdian dan ketulusan. Jika beruntung, Sobat Makan bisa menyaksikan pertunjukan wayang atau tarian tradisional di bangsal utama. Setelah selesai berkeliling, jangan lupa mampir ke area Wijilan yang letaknya tidak jauh dari keraton. Di sana, deretan warung Gudeg legendaris sudah siap menanti untuk mengisi energi kembali. Gudeg di sini punya rasa manis dan gurih yang khas, yang menurut saya adalah “rasa asli” Jogja.
Lihat Lokasi Disini
Menelusuri Lorong Waktu di Taman Sari – Wisata Jogja Santai
Tidak jauh dari Keraton, ada satu tempat yang selalu sukses membuat saya terkesima dengan sistem pengairan masa lalunya, yaitu Taman Sari. Tempat ini dulunya merupakan taman air atau tempat pemandian bagi keluarga sultan. Saat memasuki area kolam dengan air yang berwarna kebiruan, saya bisa membayangkan betapa asrinya tempat ini pada masanya. Namun, bagian yang paling saya sukai bukanlah kolam utamanya, melainkan lorong-lorong bawah tanahnya.

Berjalan di bawah tanah menuju Sumur Gumuling, sebuah masjid bawah tanah yang unik dengan tangga melingkar, memberikan pengalaman yang sedikit misterius sekaligus estetis. Cahaya matahari yang masuk dari celah atap menciptakan bayangan yang indah untuk difoto. Sobat Makan mungkin perlu sedikit bersabar karena tempat ini cukup populer, tapi menurut saya, atmosfernya tetap terasa magis. Tips dari saya, pakailah sepatu yang nyaman karena kita akan banyak menaiki anak tangga dan berjalan di lorong yang lantainya mungkin sedikit tidak rata.
Megahnya Candi Prambanan Saat Senja – Wisata Jogja Santai
Agak bergeser ke arah perbatasan dengan Klaten, saya sempatkan diri untuk berkunjung ke Candi Prambanan. Dibandingkan dengan candi lainnya, bagi saya Prambanan punya profil bangunan yang sangat ramping dan menjulang tinggi, memberikan kesan gagah sekaligus elegan. Saya selalu memilih waktu kunjungan di sore hari. Kenapa? Karena menurut saya, Candi Prambanan paling cantik saat terkena bias cahaya matahari terbenam.

Warna batu andesit yang hitam perlahan berubah menjadi keemasan saat senja tiba. Saya sering duduk santai di area rumput yang luas di sekeliling candi, hanya untuk memandangi detail ukiran reliefnya dari kejauhan. Relief-relief itu bercerita tentang kisah Ramayana yang legendaris. Jika Sobat Makan punya waktu luang di malam hari, menonton pertunjukan Sendratari Ramayana dengan latar belakang candi yang diterangi lampu adalah cara yang manis untuk menutup hari. Pengalaman audio visualnya benar-benar melekat di ingatan.
Lihat Lokasi Disini
Singgah Sejenak di Benteng Vredeburg – Wisata Jogja Santai
Kembali ke titik nol kilometer Jogja, ada satu bangunan kokoh berwarna putih yang mungkin sering dilewati namun kadang terlewat untuk dikunjungi, yaitu Benteng Vredeburg. Saya suka masuk ke sini karena suasananya sangat tenang, kontras dengan keramaian di luar gerbangnya. Bangunan peninggalan Belanda ini sekarang berfungsi sebagai museum sejarah perjuangan bangsa. Dinding-dindingnya yang tebal seolah menjadi pembatas yang efektif dari kebisingan jalanan.

Di dalamnya, terdapat diorama yang menceritakan sejarah Yogyakarta dari masa ke masa. Tapi selain nilai sejarahnya, saya senang berkunjung ke sini karena tata ruangnya yang rapi dan pohon-pohon besar yang membuat udara di dalam kompleks benteng terasa sejuk. Setelah lelah berkeliling museum, ada kafe di area benteng yang nyaman untuk sekadar minum es kopi susu atau teh melati sambil memandangi arsitektur kolonial yang masih terawat dengan sangat baik.
Sebuah Tempat untuk Kembali
Menjelajahi Yogyakarta bagi saya bukan tentang seberapa banyak tempat yang bisa kita kunjungi dalam satu hari. Ini tentang bagaimana kita bisa menikmati setiap langkah, merasakan keramahan orang-orangnya, dan tentu saja, mencicipi setiap bumbu dalam makanannya. Kelima tempat yang saya ceritakan tadi hanyalah sebagian kecil dari apa yang ditawarkan oleh kota ini. Namun bagi saya, mereka adalah pondasi yang membangun karakter Jogja yang saya kenal dan cintai.
Yogyakarta selalu punya cara tersendiri untuk membuat pengunjungnya merasa nyaman. Entah itu melalui sepiring nasi gudeg yang hangat, atau melalui pemandangan candi yang kokoh berdiri menantang waktu. Bagi Sobat Makan yang sedang merencanakan perjalanan ke sini, pesan saya hanya satu: jangan terburu-buru. Nikmatilah setiap momennya, hirup aromanya, dan biarkan kota ini bercerita kepada kalian dengan caranya yang unik. Sampai jumpa di perjalanan kuliner dan wisata berikutnya!

