Halo, Sobat Makan! Pernahkah kamu merasa jenuh dengan keriuhan kota besar dan rindu dengan suasana yang lebih tenang, di mana waktu seolah berjalan lebih lambat? Kalau iya, saya ingin berbagi cerita tentang sebuah kota yang baru saja saya kunjungi, yaitu Magelang.
Isi Artikel
Banyak orang mengenal Magelang hanya sebagai “pintu masuk” menuju Candi Borobudur, padahal kota ini punya jiwanya sendiri. Masyarakat setempat sering menyebutnya sebagai Kota Sejuta Bunga. Bahkan, di zaman kolonial, Magelang dijuluki Tuin Van Java atau Tamannya Jawa karena keasrian alamnya yang dikelilingi pegtunungan. Udara di sini terasa lebih adem, suasananya tentram, dan masih sangat kental dengan nuansa tradisional yang bersahaja. Bagi saya, Magelang adalah tempat yang tepat untuk merasakan apa itu slow living yang sebenarnya.
Menghangatkan Pagi di Sop Senerek Bu Atmo – Kuliner Magelang Murah Pertama!
Cerita perjalanan saya kali ini dimulai dari sebuah ritual pagi yang sangat khas di kota ini. Begitu sampai di Magelang, saya merasa perut ini perlu sesuatu yang hangat untuk melawan udara pagi yang cukup menusuk. Pilihan saya jatuh pada sebuah kedai legendaris yang sudah ada sejak tahun 1967, yaitu Sop Senerek Bu Atmo.
Suasana di kedai ini sangat sederhana, jauh dari kesan mewah, namun justru di situlah letak daya tariknya. Kamu akan melihat kesibukan di dapur terbuka, di mana panci-panci besar berisi kuah bening mengepulkan uap panas. Sop Senerek sendiri sebenarnya adalah kuliner adaptasi dari budaya Belanda, yaitu snert atau sup kacang polong. Karena di Indonesia dulu sulit mencari kacang polong, masyarakat lokal menggantinya dengan kacang merah.
Baca Juga : Kuliner Magelang Cocok Untuk Liburan Nataru
Saat semangkuk sop mendarat di depan saya, tampilannya sangat menggoda. Isiannya ramai sekali; ada kacang merah yang empuk, bayam segar, wortel, dan potongan daging sapi yang lembut. Kuahnya bening, tidak berlemak berat, namun memiliki kedalaman rasa kaldu yang kuat. Di sini, Sobat Makan bisa memilih lauk tambahan seperti babat, ayam, atau baceman yang manis gurih.
Bagi saya, tempat ini sangat cocok dikunjungi oleh kamu yang datang bersama keluarga atau teman-teman yang ingin mencari sarapan sehat dan mengenyangkan. Waktu terbaik untuk berkunjung tentu saja di pagi hari sekitar jam 7 sampai jam 9. Menyeruput kuah hangat sambil melihat interaksi warga lokal yang sarapan di sini memberikan rasa nyaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya seperti sedang bertamu ke rumah nenek di desa.
Rehat Sejenak di Kaki Bukit Punthuk Setumbu
Setelah perut kenyang, saya merasa satu hari di Magelang tidak akan pernah cukup. Saya pun memutuskan untuk mencari penginapan yang bisa memberikan pengalaman lebih dekat dengan alam. Saya menemukan sebuah tempat bernama The Setumbu Experience, yang lokasinya agak tersembunyi dari keramaian kota namun tidak terlalu jauh untuk dijangkau.
Menginap di kawasan Punthuk Setumbu memberikan nuansa yang berbeda. Bayangkan, Sobat Makan bangun tidur dan langsung disambut dengan pemandangan pegunungan dan kabut tipis yang menyelimuti lembah. Bangunannya memiliki estetika yang modern namun tetap selaras dengan alam sekitarnya. Suasananya sangat damai, cocok sekali bagi kamu yang ingin menepi sejenak dari rutinitas pekerjaan atau sekadar ingin beristirahat tanpa gangguan bising kendaraan.
Salah satu alasan kenapa banyak orang memilih menginap di area ini adalah aksesnya yang sangat dekat dengan spot matahari terbit. Kamu hanya butuh berjalan kaki beberapa menit untuk sampai di lokasi pengamatan. Berada di sini membuat saya menyadari bahwa Magelang bukan sekadar tempat singgah, melainkan destinasi untuk berdiam diri dan menikmati keindahan yang ada di depan mata.
Dinner Merakyat di Nasi Goreng Pak Yatno
Malam pun tiba, dan udara Magelang semakin mendingin. Rasanya kurang lengkap kalau tidak mencoba menu makan malam paling ikonik di kota ini, yaitu Magelangan. Bagi Sobat Makan yang mungkin belum tahu, Magelangan adalah sebutan untuk nasi goreng yang dicampur dengan mie. Di kota-kota lain mungkin disebut nasi mawut, tapi di sini, rasanya punya karakter tersendiri.
Saya mampir ke warung Nasi Goreng Pak Yatno. Tempatnya sederhana, berada di pinggir jalan, namun ramainya bukan main. Yang menarik, di sini masaknya masih satu per satu. Jadi, Sobat Makan harus punya stok sabar yang cukup karena prosesnya memakan waktu. Tapi percayalah, menunggu di tengah udara dingin Magelang sambil melihat asap dari penggorengan punya keseruan tersendiri.
Saya memesan Nasi Goreng Magelangan dan Nasi Godok. Nasi gorengnya tipe yang basah dan kaya akan bumbu kecap yang meresap hingga ke dalam mie dan suwiran ayam kampungnya. Ayamnya dipotong besar-besar, memberikan tekstur yang mantap saat dikunyah. Sementara itu, Nasi Godok adalah nasi yang disajikan dengan kuah kental mirip bakmi jawa. Kuahnya gurih, hangat, dan sangat menenangkan perut.
Warung ini biasanya mulai buka sore hari sekitar jam 4 dan tutup menjelang tengah malam. Tempat ini paling pas didatangi bareng teman-teman saat lapar melanda di malam hari. Oh iya, ada tips dari saya: jangan lupa tambahkan potongan cabai rawit hijau yang tersedia di meja. Rasa pedas segarnya akan memberikan dimensi baru pada rasa manis gurih nasi gorengnya.
Menutup Perjalanan di Punthuk Setumbu
Sebelum meninggalkan Magelang, saya menyempatkan diri untuk naik ke Punthuk Setumbu saat fajar masih gelap. Ini adalah spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbit dengan latar belakang Gunung Merapi dan Merbabu. Dari ketinggian ini, Candi Borobudur terlihat kecil namun megah, seolah mengapung di atas samudera kabut.
Pemandangannya begitu magis. Banyak orang membandingkannya dengan pemandangan di luar negeri, tapi menurut saya, ini adalah keindahan asli Indonesia yang punya jiwa sendiri. Menikmati momen ini membuat saya merasa segar kembali sebelum kembali ke rutinitas sehari-hari.
Tips Singkat untuk Sobat Makan Yang Cari Kuliner Magelang Murah
Agar perjalananmu ke Magelang lebih maksimal, berikut beberapa tips dari saya:
- Siapkan Pakaian Hangat: Meskipun siang hari bisa terasa terik, udara pagi dan malam di Magelang, terutama di daerah perbukitan, cukup dingin. Jaket atau sweater tipis akan sangat membantu.
- Datang Lebih Awal: Baik itu untuk sarapan Sop Senerek atau makan malam di Pak Yatno, usahakan datang sebelum jam makan puncak agar tidak perlu mengantre terlalu lama.
- Transportasi Lokal: Magelang lebih nyaman dijelajahi dengan kendaraan pribadi atau menyewa motor agar kamu bisa lebih fleksibel masuk ke jalan-jalan kecil atau area perbukitan.
- Coba Nasi Godok: Jika biasanya kamu hanya memesan nasi goreng, sesekali cobalah nasi godok saat cuaca sedang dingin. Ini adalah pengalaman rasa yang unik dan berbeda.
Magelang adalah kota yang jujur. Ia menawarkan kenyamanan tanpa harus banyak bersolek. Dari semangkuk sop yang hangat hingga pemandangan fajar yang menenangkan, kota ini selalu punya alasan untuk membuat kita ingin kembali lagi. Jadi, kapan Sobat Makan berencana main ke sini?
Semoga cerita saya ini bisa menjadi referensi kecil buat kamu yang ingin mencari suasana baru. Sampai jumpa di perjalanan rasa selanjutnya!.



Pingback: 7 Destinasi Kuliner Magelang 2026 yang Sedang Hits - Tempat Makan
Pingback: Menikmati Momen Imlek di Borobudur: 7 Top Tempat Makan Keluarga yang Hangat dan Nyaman - Tempat Makan
Pingback: Santai Sejenak Di Magelang: Rekomendasi Tempat Ngopi Magelang Dan Makan Dengan Nuansa Alam Untuk Keluarga - Tempat Makan