Siang itu Day 2 di Jogja, saya baru selesai muter-muter Alun-Alun Kidul dan mulai cari kuliner makanan yang “ngenyangin” tapi tetap nyaman. Lapar saya sedang—bukan yang kalap—tapi kepala sudah kepikiran kuah pekat yang bisa bikin badan adem. Dari situ saya mampir ke Nasi Brongkos Handayani (Alkid), niatnya simpel: pengin semangkuk brongkos yang klasik, gurih, dan berasa rumahan.
Isi Artikel
- Kenapa Saya Pilih Nasi Brongkos Handayani buat Siang Itu?
- Momen Sendok Pertama Nasi Brongkos Handayani: Pekatnya Dapat, Gurihnya Nempel
- Catatan Untuk Datang ke Nasi Brongkos Handayani
- Jam ramai yang kerasa
- Parkirnya gimana?
- Ini tempat yang sudah lama
- Ngobrol Singkat dengan Karyawan Nasi Brongkos Handayani
- Dibanding Brongkos Bu Padmo, Bedanya Ada di Feel-nya
- Tips Biar Kunjungan ke Nasi Brongkos Handayani Nyaman
- Jadi Wajib Gak Nih?
Kenapa Saya Pilih Nasi Brongkos Handayani buat Siang Itu?
Di area Alkid, pilihan makan banyak, tapi saya lagi nggak cari yang “rame gaya”. Saya justru kepincut karena Brongkos Handayani dikenal dengan kuah pekat dan ada empal—dua hal yang biasanya jadi penentu brongkos terasa “nendang” atau tidak.
Buat saya, brongkos yang enak itu bukan cuma soal manis-gurihnya, tapi juga soal “bobot” kuahnya: harus terasa kaya bumbu, tidak watery, dan ada jejak rempah yang tinggal di lidah setelah suapan terakhir. Nah, ekspektasi itulah yang saya bawa pas datang.
Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur
Momen Sendok Pertama Nasi Brongkos Handayani: Pekatnya Dapat, Gurihnya Nempel

Saya datang untuk makan siang, dan rasanya memang pas dinikmati di jam segitu—perut sudah minta diisi, badan habis jalan, dan kuah hangat jadi jawaban paling aman. Alurnya juga jelas: pesan, tunggu sebentar, lalu disajikan.
Soal waktu tunggu, di kunjungan saya kisaran 10–15 menit. Masih wajar untuk jam makan siang, apalagi kalau kondisi lagi ramai. Begitu sampai, yang langsung terasa adalah karakter kuahnya yang pekat—bukan yang kental berlebihan, tapi cukup “berisi” sampai tiap suapan nasi terasa terselimuti bumbu.
Empalnya jadi highlight yang paling gampang diingat: teksturnya nyaman dikunyah, dan kalau kamu tipe yang suka lauk daging, bagian ini bisa bikin kamu fokus. Rasa gurihnya bukan yang meledak-ledak, tapi stabil: enak di awal, enak di tengah, dan tidak bikin eneg di akhir. Buat saya, ini tipe hidangan yang bikin kamu pelan-pelan habisin sampai mangkuknya bersih, karena ritmenya pas.
Saya habis sekitar 35–45 menit di lokasi. Bukan lama karena lama nunggu, tapi karena saya makan santai—biar benar-benar terasa, sekaligus lihat “pola” keramaian dan alur pelayanannya.
Lihat Lokasi : Google Maps
Catatan Untuk Datang ke Nasi Brongkos Handayani
Kalau kamu ngincer Nasi Brongkos Handayani untuk makan siang, ini beberapa hal yang menurut saya penting:
Jam ramai yang kerasa
- Biasanya 12.00–14.00 mulai padat. Kalau kamu nggak suka antre atau pengin suasana lebih lengang, datang sedikit lebih awal bisa bantu.
Parkirnya gimana?
- Parkir motor/mobil tepi jalan. Artinya, kamu perlu siap-siap cari spot, terutama saat jam makan siang. Kalau bawa mobil, lebih baik ekstra sabar atau minta yang nyetir stand by sebentar.
Ini tempat yang sudah lama
- Mereka disebut sudah berdiri sejak ±1970-an. Saya pakai info ini sebagai konteks saja: wajar kalau tempatnya punya gaya “klasik” dan ritme layanan yang khas warung lama—nggak terburu-buru, tapi jalan.
Ngobrol Singkat dengan Karyawan Nasi Brongkos Handayani
Saya sempat lempar 4 pertanyaan ringan supaya kamu punya bayangan sebelum datang:
- Bagian daging favorit?
Saya nangkepnya, empal memang jadi salah satu yang sering dicari orang (nyambung juga sama highlight saya di mangkuk tadi). - Bisa request pedas?
Bisa. Kalau kamu suka pedas, kamu bisa minta levelnya disesuaikan—jadi nggak cuma “ikut standar”. - Ada porsi anak?
Ada opsi yang lebih ramah untuk anak (atau buat kamu yang lagi nggak pengin porsi penuh). Ini berguna kalau kamu datang bareng keluarga. - Jam paling padat kapan?
Mengarah ke jam makan siang, terutama rentang 12.00–14.00. Jadi kalau kamu tim “hindari rame”, strategi waktunya jelas.
Dibanding Brongkos Bu Padmo, Bedanya Ada di Feel-nya
Kalau kamu pernah dengar Brongkos Bu Padmo, anggap saja ini sebagai pembanding yang sama-sama punya penggemar. Di kunjungan saya, Brongkos Handayani terasa lebih “langsung ke inti”: kuahnya pekat, empalnya jadi titik fokus, dan pengalaman makannya cenderung klasik.
Bukan soal siapa lebih unggul—lebih ke selera dan kebutuhan. Kalau kamu lagi pengin brongkos yang terasa “berat” di kuah dan puas di lauk dagingnya, Handayani bisa jadi opsi yang pas. Kalau kamu tim eksplor dan suka membandingkan, seru juga bikin “brongkos day” dan coba dua-duanya di momen yang berbeda.
Baca Juga : Mangut Beong Sehati Borobudur: Pedas Gurih Ikan Sungai yang Bikin Nambah Nasi
Tips Biar Kunjungan ke Nasi Brongkos Handayani Nyaman
- Datang sebelum jam 12.00 kalau kamu pengin duduk lebih cepat dan parkir lebih gampang.
- Kalau kamu suka pedas, bilang dari awal saat pesan. Saya juga tipe yang suka pedas, dan ini bisa bikin semangkuk brongkos terasa lebih “hidup”.
- Bawa keluarga? Tanyain opsi porsi yang ramah anak, biar nggak mubazir dan anak juga nyaman.
- Siapkan plan parkir kalau kamu bawa mobil, karena parkirnya tepi jalan dan bisa rebutan saat jam ramai.
Jadi Wajib Gak Nih?
Wajib — (pekat, gurih, klasik).
Kalau kamu lagi di sekitar Alkid dan butuh makan siang yang menenangkan perut dengan kuah yang benar-benar “punya isi”, Nasi Brongkos Handayani Alkid layak masuk list kamu. Datang agak awal, nikmati pelan-pelan, dan jangan ragu request pedas kalau itu gaya kamu.



Pingback: Tempo Gelato Prawirotaman: Tempat “Cooling Down” Paling Pas Sebelum Makan Malam - Tempat Makan
Pingback: Pecinta Durian, Ini Temuan Baru di Magelang: Es Dawet Durian Bar Bar (Cabang Pakelan) - Tempat Makan